Friday, August 2, 2013

Makalah Sejarah Perkembangan Tasawuf : Salafi (Akhlaki). Falsafi dan Syi'i



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Ilmu tasawuf yang merupakan salah satu cabang ilmu yang sangat kontroversi dikalangan para ahli sufi, dikarenakan di dalamnya mengandung berbagai permasalahan yang menyangkut dengan aqidah dan keimanan seseorang.
      Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua, yaitu tasawuf yang mengarah pada teori-teori perilaku dan tasawuf yang mengarah pada teori-teori yang rumit dan memerlukan pemahaman mendalam.
Pada perkembangannya, tasawuf yang berorientasi ke arah pertama sering disebut sebagai tasawuf akhlaqi. Ada yang menyebutnya sebagai tasawuf yang banyak dikembangkan oleh kaum salaf. Adapun tasawuf yang berorientasi ke arah kedua disebut sebagai tasawuf falsafi. Tasawuf ini banyak dikembangkan para sufi yang berlatar belakang sebagai filosof di samping sebagai sufi.
      Perkembangan Tasawuf dan Islam telah mengalami beberapa fase. Pertama, yaitu fase asketis (zuhud) yang tumbuh pada akad pertama dan kedua Hijriyah sikap asketis ini dipandang sebagai pengantar tumbuhnya tasawuf. Tasawuf mempunyai perkembangan tersendiri dalam sejarahnya. Tasawuf berasal dari gerakan zuhud yang selanjutnya berkembang menjadi tasawuf. Meskipun tidak persis dan pasti, corak tasawuf dapat dilihat dengan batasan- batasan waktu dalam rentang sejarah.
      Corak-corak ilmu tasawuf yang berkembang menurut rentang waktu yang sangat panjang, dengan berbagai motif dan konsep-konsep yang berbagai macam tetapi dengan satu tujuan jua, yakni tentang keimanan dan tujuan hidup seseorang.Tasawuf sebagai ajaran pembersihan hati dan jiwa memiliki sejarah perkembangannya dari masa ke masa.

B.     Rumusan Masalah
           Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut:
A.    Bagaimana sejarah perkembangan Tasawuf Salafi(akhlaki)?
B.     Bagaimana sejarah perkembangan Tasawuf Falsafi?
C.     Bagaimana sejarah perkembangan Tasawuf Syi’i?

C.    Tujuan
            Berdasarkan rumusan diatas, tujuan penulisan makalah ini adalah :
A.    Mengetahui sejarah perkembangan Tasawuf Salafi(akhlaki).
B.     Mengetahui sejarah perkembangan Tasawuf Falsafi.
D.    Mengetahui sejarah perkembangan Tasawuf Syi’i.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tasawuf Salafi (akhlaqi)/Sunni
1. Pengertian Tasawuf Suni
            Abu al-Wafa’al-Ghanimi al-Taftazani dalam bukunya “Madkhal ila al-Tasawuf al-Islam menjelaskan aliran Tasawuf sunni adalah aliran sufi yang pendapat moderat dan ajaran tasawufnya selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah atau denagn kata lain tasawuf aliran ini akan selalu berpatokan syari’at. Aliran ini tumbuh dan berkembang pada abad kelima Hijriah.Aliran tasawuf sunni ini mendapat sambutan seiring dengan berkembangnya aliran teologi Ahlussunnah wal jamaah yang dilancarkan oleh Abu al-Hasan al-Asya’ri atas aliran-aliran lainnya dengan kritiknya yang luras terhadap keekstriman tasawuf Abu Yazid al-Busthami al-Halley dan para sufi lainnya.
            Tasawuf Sunni mengadakan pembaharuan dengan mengembalikan tasawuf ke landasan Al-Qur’an dan as-Sunnah dan mengaitkan keadaan dan tingkatan rohaniah kepada kedua landasan tersebut. Tokoh yang paling berpengaruh dalam aliran ini adalah al-Qusyairi, al-Harawi, dan al-Ghazali. Dengan demikian pada abad kelima Hijriah, Tasawuf sunni berada dalam posisi yang sangat menentukan dan memungkinkan tersebar luas di kalangan masyarakat Islam sampai sekarang.[1]
            Tasawuf sunni ialah aliran tasaawuf  yang berusaha memadukan asapek hakekat dan syari’at,  yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Shirah para sahabat.[2] Tasawuf Akhlaqi yaitu tasawuf yang sangat menekankan nilai-nilai etis (moral).[3]
            Tasawuf sunni banyak berkembang di dunia Islam, terutama di Negara–Negara yang dominan bermazhab Syafi’i. Tasawuf ini sering digandrungi orang karena paham atau ajaran – ajarannya tidak terlalu rumit.
           Latar belakang munculnya ajaran ini tidak telepas dari pecekcokan masalah aqidah yang  melanda para ulama’ fiqh dan tasawwuf lebih-lebih pada abad  kelima hijriah aliran syi’ah al-islamiyah yang berusaha untuk memngembalikan kepemimpinan kepada keturunan ali bin abi thalib. Dimana syi’ah lebih banyak mempengaruhi para sufi dengan doktrin bahwa imam yang ghaib akan pindah ketangan sufi yang layak menyandang gelar waliyullah, dipihak lain para sufi banyak yang dipengaruhi oleh filsafat Neo-Platonisme yang memunculkan corak pemikiran taawwuf falsafi yang tentunya sangat bertentangan dengan kehidupan para sahabat dan tabi’in. dengan ketegangan inilah muncullah sang pemadu syari’at dan hakekat yaitu Imam Ghazali.[4]

2.      Ciri-ciri dan karakteristik ajaran Tasawuf Sunni :
a.       Melandaskan diri pada  Al-quran dan As-Sunnah.
b.      Tidak menggunakan terminologi – terminology filsafat sebagaimana terdapat pada ungkapan – ungkapan Syathahat.
c.       Lebih bersifat mengajarkan dualism dalam hunganan antara Tuhan dan manusia.
d.      Kesinambungan antara hakikat dengan syari’at.
e.       Lebih terkonsentrasi pada pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan cara riyadhah (latihan – latihan) dan langkah takhalli, tahalli, dan tajalli.
            Tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:
1.      Takhalli: merupakan langkah pertama yang harus di lakukan oleh seorang sufi.Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah satu dari akhlak tercela yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi.
2.       Tahalli: adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaum sufi setelah mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela. Dengan menjalankan ketentuan agama baik yang bersifat eksternal (luar) maupun internal (dalam). Yang disebut aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti sholat, puasa, haji dll. Dan adapun yang bersifat dalam adalah seperti keimanan, ketaatan dan kecintaan kepada Tuhan. Sikap mental dan perbuatan yang baik sangat penting diisikan kedalam jiwa manusia akan dibiasakan dalam perbuatan dalam rangka pembentukan manusia paripurna, antara lain sebagai berikut:
a.    Taubat: Yaitu rasa penyesalan sungguh – sungguh dalam hati yang disertai permohonan ampun serta berusaha meninggalkan perbuatan yang menimbulkan dosa.
b.      Cemas dan Harap (Khauf dan Raja’) : yaitu perasaan yang timbul karena banyak berbuat salah dan seringkali lalai kepada Allah.
c.       Zuhud:  Yaitu meninggalkan kehidupan duniawi dan melepaskan diri dari pengaruh materi.
d.      Al-Faqr: Yaitu sikap yang tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai dan merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki sehingga tidak meminta sesuatu yang lain.
e.       Al-Sabru: Yaitu suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekuen dalam pendirian.
f.       Ridha: Yaitu menerima dengan lapang dada dan hati terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah.
g.      Muraqabah: yaitu seseorang menyadari bahwa dirinya tidak pernah lepas dari pengawasan Allah sehingga selalu membawanya pada sikap mawas diri atau self correction.
3.       Tajalli: Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh –yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur- tidak berkurang, maka, maka rasa ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.[5]
3.      Tokoh-tokoh Tasawuf Sunni
            Munculnya aliran-aliran tasawuf ini tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Begitu juga sama halnya dengan Tasawuf sunni. Diantara sufi yang berpengaruh dari aliran-aliran tasawuf sunni dengan antara lain sebagai berikut:
a.              Hasan al-Basri.
            Hasan al-Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat taqwa, wara’ dan zahid. Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi al-Hasan. Lahir di Madinah pada tahun 21 H tetapi dibesarkan di Wadi al-Qura. Setahun sesudah perang Shiffin dia pindah ke Bashrah dan menetap di sana sampai ia meninggal tahun 110 H.
            Dasar pendiriannya yang paling utama adalah zuhud terhadap kehidupan duniawi sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan duniawi. Prinsip kedua Hasan al-Bashri adalah al-khouf dan raja’. Dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalakukan perintahNya. Serta menyadari kekurang sempurnaannya. Oleh karena itu, prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan mawas diri atau muhasabah agar selalu memikirkan kehidupan yang akan dating yaitu kehidupan yang hakiki dan abadi.
b.              Rabiah Al-Adawiyah
        Nama lengkapnya adalah Rabiah al-adawiyah binti ismail al Adawiyah al Bashoriyah, juga digelari Ummu al-Khair. Ia lahir di Bashrah tahun 95 H, disebut rabi’ah karena ia puteri ke empat dari anak-anak Ismail. Diceritakan, bahwa sejak masa kanak-kanaknya dia telah hafal Al-Quran dan sangat kuat beribadah serta hidup sederhana.
        Cinta murni kepada Tuhan adalah puncak ajarannya dalam tasawuf yang pada umumnya dituangkan melalui syair-syair dan kalimat-kalimat puitis.
        Cinta kepada Allah adalah satu-satunya cinta menurutnya sehingga ia tidak bersedia mambagi cintanya untuk yang lainnya. Seperti kata-katanya “Cintaku kepada Allah telah menutup hatiku untuk mencintai selain Dia”. Bahkan sewaktu ia ditanyai tentang cintanya kepad Rasulullah SAW, ia menjawab: “Sebenarnya aku sangat mencintai Rasulullah, namun kecintaanku pada al-Khaliq telah melupakanku untuk mencintai siapa saja selain Dia”. Pernyataan ini dipertegas lagi olehnya lagi mealui syair berikut ini: “Daku tenggelam dalam merenung kekasih jiwa, Sirna segalanya selain Dia, Karena kekasih, sirna rasa benci dan murka”.
c.              Dzu Al-Nun Al-Misri
        Nama lengkapnya adalah Abu al-Faidi Tsauban bin Ibrahim Dzu al-Nun al-Mishri al-Akhimini Qibthy. Ia dilahirkan di Akhmin daerah Mesir. Sedikit sekali yang dapat diketahui tentang silsilah keturunan dan riwayat pendidikannya karena masih banyak orang yang belum mengungkapkan masalah ini. Namun demikian telah disebut-sebut oleh orang banyak sebagai seorang sufi yang tersohor dan tekemuka diantara sufi-sufi lainnya pada abad 3 Hijriah.
d.             Abu Hamid Al-Ghazali
        Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad. Karena kedudukan tingginya dalam Islam, dia diberi gelar Hujjatul Islam.Ayahnya, menurut sebagian penulis biografi, bekerja sebagai pemintal wol. Dari itulah, tokoh sufi yang satu ini terkenal dengan al-Ghazzali (yang pemintal wol),  menurut periwayatan al-Subki, dia serta saudaranya menerima pendidikan mistisnya dirumah seorang sufi sahabat ayahnya, setelah ayahnya meninggal dunia.
        Di bidang tasawuf, karya-karya Al-Ghazali cukup banyak, yang paling penting adalah Ihya’ ‘Ulum al-Din. Dalam karyanya tersebut, dia menguraikan secara terinci pendapatnya tentang tasawuf, serta menghubungkannya dengan fiqh maupun moral agama. Juga karya-karya lainnya, al-Munqidz min al-Dhalal, dimana ia menguraikan secara menarik kehidupan rohaniahnya, Minhaj al-‘Abidin, Kimia’ al-Sa’adah, Misykat al-Anwar  dan sebagainya.

B.     Tasawuf Falsafi
1.            Pengertian Tasawuf Falsafi
            Tasawuf filosofii adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistik dengan visi rasional. Berbada dengan tasawuf Sunni, seperti tasawufal-Qusyairi dan al-Ghazali, tasawuf Filosofis menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya.
            Pemaduan antara unsur tasawuf dan filsafat dalam ajaran tasawuf filosofis telah membuat ajaran tasawuf aliran ini bercampur dengan sejumlah ajaran filsafat diluar Islam seperti Yunani, Persia, India, dan agama nasrani. Meskipun demilian orisinalitasnya sebagai tasawuf tetap terpelihara. Ciri umum dari aliran filosofis antara lain banyak ungkapan dan istilah yang digunakan samar-samar terkadang hanya dipahami oleh kalangan tertentu, terutama yang memahami dan mendalami ajaran tasawuf jenis ini, sehingga tasawuf filosofis tidak dapat dipandang sebagai filsafat, karena ajaran dan metode didasarkan pada rasa (dzanq), begitu juga sebaliknya tidak dapat dikatagorikan kepada tasawuf dalam pengertian murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat.
            Para sufi pendiri aliran tasawuf filosofis ini:
a.       memahami ilmu agama dengan mendalami seperti Fiqh, Hadis, Tafsir, dan Ilmu Kalam.
b.      Mereka juga dikenal dengan baik filsafat Yunani dan berbagai aliran filsafat lainnya. mereka juga mengkaji pemikiran para filosof Islam seperti al-Farabi, Ibnu Sina dan lain-lain.
c.       Selain itu mereka juga dipengaruhi oleh aliran bathiniah sekte Islamiyah dan risalah ikhwan al-Shafa. Karena itu mereka sering mendapat kritikan terutama dari kalangan para fuqaha karena pendapat mereka tentang kesatuan wujud, kesatuan agama dan akibat yang ditimbulkannua uang menurut para fuqaha bertentangan dengan akidah Islam.
            Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah menyimpulkan bahwa ada empat objek utama yang menjadi perhatian para sufi filosofis yaitu:
a.       Latihan rohaniah dengan ras, intuisi, serta introspeksi diri.
b.      Iluminasi atau hakikat yang terungkap dari alam ghaib, misalnya sifat-sifat Rabbani, arsy, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, ruh, hakikat realitas segala wujud yang ghaib maupun yang tampak dari susunan kosmos terutama tentang penciptaan dan ciptaannya.
c.       Peristiwa-peristiwa dalam alam yang berpengaruh terhadap berbagai kekeramatan dan kekeluarbiasaan
d.      Shathahiyat, ungkapan yang samar-samar yang telah melahirkan reaksi masyarakat berupa pengingkaran dan penyatuan.
            Tasawuf falsafi mempunyai beberapa karakteristik antara lain:
a.       Tasawuf ini didasarkan pada latihan rohaniyah untuk peningkatan moral, sedangkan ilmu iluminasi sebagai metode untuk mengetahui berbagai hakikat realitas, yang menurut penganutnya dapat dicapai dengan fana.
b.      Mereka juga sering menyamarkan ungkapan-ungkapan tentang hakikat realitas ajaran mereka dengan berbagai simbol, sehingga ajaran mereka tidak dapat dipahami begitu saja olehorang lain, dan sukar ditafsirkan, seperti ungkapan Abu Yazid al-Busthami, dan al-Hallaj.[6]
Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni. kalau tasawuf sunni lebih menonjol kepada segi praktis , sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.[7]
            Pemikiran Filsafat merasuki dan mempengaruhi pemikiran Islam secara umum, dan tasawuf secara khusus, pada abad VI dan VII H. Pada abad tersebut muncul mazhab wahdatul wujud dalam bentuknya yang paripurna di tangan Sufi-Filosof Andalusia, Muhyiddin Ibnu Arabi (wafat 628 H). Mazhab wahdatul wujud tersebar dari Barat ke Timur oleh Ibnu Arabi sendiri dan Ibnu Sab’in.[8]

2.            Karakteristik tasawuf falsafi
            Adapun karakteristik tasawuf falsafi antara lain:
a.       Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta intropeksi diri yang timbul dari dirinya.
b.      Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya sifat-sifat rabbani, ‘arasy, kursi, malaikat, wahyu kenabian, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang nampak, dan susunan yang kosmos, terutama tentang penciptanya serta penciptaannya.
c.       Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang brepengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
d.      Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syatahiyyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui atau menginterpretasikannya.[9]

3.            Tokoh-tokoh tasawuf falsafi
1.            Al-hallaj
Al-hallaj menggunakan paham hulul. Hulul merupakan salah satu konsep didalam tasawuf falsafi yang meyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan makhluk. Kata hulul berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat ke-Tuhanan kedalam diri manusia atau masuk suatu zat kedalam zat yang lainnya. Hulul adalah doktrin yang sangat menyimpang. Hulul ini telah disalah artikan oleh manusia yang telah mengaku bersatu dengan Tuhan. Sehingga dikatakan bahwa seorang budak tetaplah seorang budak dan seorang raja tetaplah seorang raja. Tidak ada hubungan yang satu dengan yang lainnya sehingga yang terjadi adalah hanyalah Allah yang mengetahui Allah dan hanya Allah yang dapat melihat Allah dan hanya Allah yang menyembah Allah.
2.            Abu yazid al-bustami.
         Ia mengembangkan faham ittihad, yang menurutnya manusia adalah pancaran Nur Ilahi, oleh karena itu manusia hilang kesadaranya (sebagai manusia) maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan. Sebagaimana  Pengertian ittihad yang disebutkan dalam sufi terminologi adalah penggabungan antara dua hal yang menjadi satu. Kata ini berasal dari kata wahd atauwahdah yang berarti satu atau tunggal. Jadi ittihad artinya bersatunya manusia dengan Tuhan. 
3.            Ibn Arabi
         Ibn Arabi menggunakan bentuk pola akal yang bertingkat-tingkat, seperti; akal pertama, kedua, ketiga dan sampai akal kesepuluh. Dimana ia mencoba mengambarkan bahwa proses terjadinya sesuatu ini berasal dari yang satu, kalau Bahasanya plotinus ialah the one. Beliau mengajarkan faham Wahdatul-wujuddan Wahdatul-adyan. Wahdatul-adyan adalah kesamaan agama, al-Arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu. Karakteristik dari tasawuf ini adalah lebih mengedepankan akal dari pada al-qur’an dan as-sunnah.
4.            Al-jilli
      Konsep al-jilli adalah insan kamil yaitu nukhsoh atau copy Tuhan, Tuhan memiliki sifat pandai, berkehendak, mendengar, dan sebagainya. Manusiapun memiliki sifat tersebut, dari konsep ini ia berusaha memberikan pemahaman kepada kita bahwa manusia adalah insan kamil dengan segala kesempurnaannya, sebab pada dirinya terdapat sifat dan nama illahi. Sama dengan al-Arabi karekteristik ajarannya lebih mengedepankan akal.
5.            Ibn Sabi’in
      Ibn Sabi’in terkenal dengan fahamnya yaitu kesatuan mutlak yang menempatkan ketuhanan pada tempat pertama, sebab wujud Allah menurutnya adalah asal segala yang ada. Sementara wujud materi yang tampak justru dia rujukkan pada wujud mutlak.
6.            Ibnu-Massarah: Ia menganut faham emanasi yaitu tingkatan-tingkatan wujud yang memancar dari tuhan ,dalam fahamnya adalah materi pertama yang bersifat rohaniah, kemudian akal universal, diikuti dengan jiwa yang bersifat murakkab.[10]

C.    Tasawuf Syi’i
1.            Pengertian Tasawuf Syi’i
Tasawuf Syi’i adalah tasawuf yang beranggapan bahwa manusia akan manunggal dengan tuhannya karena ada kesamaan esensi antara keduanya. Hal ini sebagaimana tasawuf falsafi di mana al-Hallaj (adalah salah satu tokoh dari tasawuf filsafat) memformulasikan teorinya dalam doktrin ‘Hulul’, yakni perpaduan insan dengan Tuhan secara rohaniyah atau makhluk dengan al-khalik. Oleh karenanya tasawuf syi’i disebut-sebut mempunyai kesaman dengan tasawuf falsafi.
Pada tasawuf Syi’i yang dengan penghormatan berlebihannya kepada Ali Bin Abi Thalib dan sebagai imam pertama kaum Syi’ah, Ali menggabungkan dua jenis otoritas di atas dalam satu pribadi, dan menurut Syi’isme, aturan tepat segala sesuatu menuntut bahwa imam harus mengatur dan memerintah secara spiritual dan temporal. Akan tetapi, sementara dalam Syi’isme aspek esoteris Islam diproyeksikan ke masyakarat umum, sehingga perbedaan antara eksoteris dan esoteris menjadi samar. Dalam pemahaman sufi pada umumnya hierarki vertikal dan horizontal tidak perlu bercampur. Hal inilah yang membedakannya dengan tasawuf Syi’i yang menggabungkan dua unsur esoteris dan unsur eksoteris.
Selain itu tasawuf Syi’i atau yang di sebut juga tasawuf Syi’ah, ajarannya adalah pemulyaan kepada imam secara berlebihan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menuhankan imam. Hal ini merupakan perbedaan yang cukup kontras dengan tasawuf lainnya umpamanya sunni, bahkan pada masanya Syi’i dan Sunni adalah aliran atau tasawuf yang saling bertolak belakang dalam kecintaan kepada Ali Bin Abi Thalib dan karena keruhaniannya yang unggul. Di mana Syi’i karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali Bin Abi Thalib, sehingga membatalkan kekhalifaan khalifah sebelum Ali Bin Abi Thalib, bahkan mengkafirkan mereka.

2.            Karakteristik Tasawuf Syi’i
Jika berbicara tentang tasawuf syi’i, maka akan diikuti oleh tasawuf sunni. Dimana dua macam tasawuf yang dibedakan berdasarkan “kedekatan” atau “jarak” ini memiliki perbedaan. Paham tasawuf syi’i beranggapan, bahwa manusia dapat meninggal dengan tuhannya karena ada kesamaan esensi antara keduanya. Menurut ibnu Khaldun yang dikutip oleh Taftazani melihat kedekatan antara tasawuf falsafi dan tasawuf syi’i. Syi’i memilki pandangan hulul atau ketuhanan iman-iman mereka. Menurutnya dua kelompok itu mempunyai dua kesamaan.
Sementara itu azzmardi azra tidak membedakan antar keduanya dalam persoalan tasawuf,karena tidak dikenal dalam terminologi islam mengenai tasawuf syi’i.
            Karakteristik dari ajaran tasawuf ini adalah:
a.       Ajarannya lebih didasarkan atas ketajaman pemahaman dalam menganalisis kedekatan manusia dengan tuhan,
b.       Lebih mengedepankan konsepsi keimanan

3.      Tokoh-Tokoh Tasawuf Syi’i
a.       Ibnu khaldun, Ibnu kaldun mengambil konsep persoalan quthb yang merupakan puncak iman dan ibdal yang merupakan perwakilan .
b.      Azyumardi azra, Ia tidak membedakan antara tasawuf syi’i dan sunni .Ia lebih kepada konsep mahabbah,ma,rifah,hulul,wahdatul wujud kesemuanya itu konsep dari tasawuf falsafi yang cenderung lebih spekulatif.
c.       Ath-thabathaba’I, Ia menjelaskan bahwa ilmu ma’rifat ,mula-mula timbul dalam dunia sunnah kemudian dikalangan kaum syi’ah[11]



BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
            Berdasarkan pembahasan makalah tersebut dapat disimpulkan:        Tasawuf sunni ialah aliran tasaawuf  yang berusaha memadukan asapek hakekat dan syari’at,  yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Shirah para sahabat. Ciri-ciri dan karakteristik ajaran Tasawuf Sunni: Melandaskan diri pada  Al-quran dan As-Sunnah; Tidak menggunakan terminologi – terminology filsafat sebagaimana terdapat pada ungkapan – ungkapan Syathahat; Lebih bersifat mengajarkan dualism dalam hunganan antara Tuhan dan manusia; Kesinambungan antara hakikat dengan syari’at; dan lebih terkonsentrasi pada pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan cara riyadhah (latihan – latihan) dan langkah takhalli, tahalli, dan tajalli.
            Tasawuf filosofii adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistik dengan visi rasional; Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya sifat-sifat rabbani, ‘arasy, kursi, malaikat, wahyu kenabian, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang nampak, dan susunan yang kosmos; peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang brepengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan; penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar.
                  Tasawuf Syi’i adalah tasawuf yang beranggapan bahwa manusia akan manunggal dengan tuhannya karena ada kesamaan esensi antara keduanya. Karakteristik: ajarannya lebih didasarkan atas ketajaman pemahaman dalam menganalisis kedekatan manusia dengan tuhan, dan lebih mengedepankan konsepsi keimanan. Tokoh-Tokoh Tasawuf Syi’i: Ibnu khaldun, Azyumardi azra; Ath-thabathaba’I.
DAFTAR PUSTAKA

            Damanhuri, Akhlak Tasawuf, Banda Aceh: PENA, 2           
            Fattah Sayyid Ahmad. Abdul, Tasawuf antara Al-Ghazali & Ibnu Taimiyah, Jakarta: KHALIFA, 2005.

            As. Zufr-Zie Ncek,”Makalah Ilmu Tasawuf, perkembangan tasawuf akhlaqi,falsafi dan syi’i”, http://aszufri92.wordpress.com/2012/08/07/makalah-ilmu-tasawuf-perkembangan-tasawuf-akhlaqi-falsafi-dan-syii/(diakses pada 18 April, 01:25).

            Tesa. Aminraka, “Sejarah perkembangan tasawuf”, http://amienrakatesa.blogspot.com/2012/05/sejarah-perkembangan-tasawuf.html (diakses pada Rabu, 17 April 2013, 22:01).
Team Musyawarah Guru Bina




[1] Damanhuri, Akhlak Tasawuf, Banda Aceh: PENA, 2010
[2] Tesa. Amienraka, “Sejarah perkembangan tasawuf”, http://amienrakatesa.blogspot.com/2012/05/sejarah-perkembangan-tasawuf.html (diakses pada Rabu, 17 April 2013, 22:01)
[3]
[4]Tesa. Amienraka, Loc. Cit.
[5]As. Zufr-Zie Ncek,”Makalah Ilmu Tasawuf, perkembangan tasawuf akhlaqi,falsafi dan syi’i”, http://aszufri92.wordpress.com/2012/08/07/makalah-ilmu-tasawuf-perkembangan-tasawuf-akhlaqi-falsafi-dan-syii/(diakses pada 18 April, 01:25).
[6] Damanhuri,Op. Cit.hal. 128-130.
[7] Tesa. Aminraka, “Sejarah perkembangan tasawuf”, http://amienrakatesa.blogspot.com
[8] Fattah Sayyid Ahmad. Abdul, Tasawuf antara Al-Ghazali & Ibnu Taimiyah, Jakarta: KHALIFA, 2005.
[9]Tesa. Aminraka, “Sejarah perkembangan tasawuf”, http://amienrakatesa.blogspot.com
[10]Tesa. Aminraka, “Sejarah perkembangan tasawuf”, http://amienrakatesa.blogspot.com
[11]Tesa. Aminraka, “Sejarah perkembangan tasawuf”, http://amienrakatesa.blogspot.com

No comments:

Post a Comment